Juara Lomba GTK, Pengawas Madrasah Lamongan Lakukan Benchmarking ke Turki.

0
299
TERBANG KE TURKI. Pengawas Madrasah asala Lamongan Ira. Ida Safiaturahma, M.Pd.I (sembilan dari kiri) foto bersama pejabat Kemendikbud Turki di depan kantor Kemendikbud Turki 

Lamongan-Prestasi yang diraih pengawas Dra Ida Safiaturahma, M.Pd.I dalam lomba Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2019 membawa berkah luar biasa. Perempuan kelahiran Situbondo ini bukan hanya mendapat anugerah tropi dan uang, tetapi juga mendapat bonus dapat kesempatan mengikuti kegiatan Benchmarking ke Turki dari Direktorat Guru dan Tenaga kependidikan Kemenag RI.

Bersama 13 delegasi dari provinsi lain yang diketuai Kasubdit GTK MI/MTs Kemenag RI, Prof, DR. Ainur Rofik, Ida Safiaturahma terbang ke Turki selama 5 hari, mulai Sabtu (28/12/2019) hingga Rabu (2/01/2020). “Kegiatan tersebut adalah bentuk apresiasi kepada pemenang lomba Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga kependidikan Kemenag RI,” ungkap Prof, DR. Ainur Rofik.

Persiapan pemberangkatan dilakukan dengan pembekalan oleh Direktur GTK, Prof. DR. Suyitno, M Ag, bertempat di Wisma Haji, Jln. Jaksa Jakarta, Kamis, (26/12). Harapannya tentang kegiatan Benchmarking ini adalah 3 hal yaitu pertama, untuk merekam tentang pengelolaan pendidikan di Turki dan melakukan deseminasi sepulang dari kunjungan studi di Turki,  peserta juga diharapkan dapat menyusun lesson learn dalam bentuk laporan kegiatan yang komprehensif  tentang hasil studi di sana.

“Bapak-Ibu sebagai delegasi terpilih harus bisa memanfaatkan moment ini untuk ajang pembelajaran dalam menganalisis tata kelola pendidikan, baik yang meliputi tata kelola guru, Kepala Madrasah dan tenaga kependidikan yang professional,” harapnya.

Dra. Ida Safiaturahma, M.Pd.I

Pelaksanaan Benchmarking sendiri dilakukan di 2 kota, yaitu kota Istanbul dan kota Ankara yang meliputi kunjungan ke sekolah Imam Hatip atau sekolah negerinya Turki berbasis Agama di bawah wewenang Kementerian Pendidikan Nasional yang menerapkan kurikulum 30% Pendidikan Agama dan 70% Pendidikan umum.

Sekolah Imam Hatib yang berjumlah sekitar 5.200 ini tersebar di wilayah Turki dengan jumlah siswa 1.400.000.  Saat ini ada 56 siswa SMA Imam Hatib berasal dari Indonesia melalui jalur beasiswa.

Sesuai dengan motto pendidikan di Turki yaitu Happy Children, Strong Turki, pengembangan akademik yang dilakukan meliputi pembelajaran ilmu pengetahuan, mental, fisik dan spiritual siswa dilaksanakan melalui permainan intelegensi, perpustakaan-z, bengkel penulisan, laboratorium, fasilitas olah raga yang memadai, kelas khusus Qur’an, bahasa, seni, robotik, audio visual, dan tehnologi Informasi. Sehingga sekolah ini memiliki fokus masing2 dalam memilih program unggulan. Seperti sekolah Imam Hatib Ankara memiliki program unggulan Science and Sosial. Ada pilihan program unggulan yaitu, tahfidz, science and social, language, Art, dll

Sekolah Imam Hatib yang dikelola pemerintah ini membebaskan semua biaya pendidikan bagi siswanya, termasuk pemenuhan sarana dan prasarana pembelajaran dan ekstrakurikuler yang berkualitas, jumlah siswa dibatasi 20 per rombel dengan tenaga pengajar yang profesional di bidangnya.

Dra. Ida Safiaturahma, M.Pd.I saat menerima tropi juara satu

Jenjang SD, SMP dan SMA masing-masing ditempuh 4 tahun, menerapkan pembelajaran full day dari jam 08.00-15.30 dan rekrut siswanya melalui zonasi atau melalui test bila masuk sekolah di luar zona.

Selain melakukan kunjungan ke sekolah,  tim juga melakukan kunjungan studi orientasi ke Kemendikbud, KJRI, KBRI, PT Dianet, yaitu lembaga keagamaan independent di luar struktur pemerintahan yang mengurus bidang keagamaan. Banyak hal baru yang bisa diambil sebagai bahan implementasi pembelajaran di Indonesia khususnya di Madrasah. Karena pada dasarnya Indonesia dan Turki memiliki persepsi  yang sama dengan visi Kemenag yaitu mewujudkan SDM yang memiliki kemampuan IPTEK sekaligus IMTAQ.

Kunjungan ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari pemerintah Turki  yang siap bekerja sama dengan memberikan peluang beasiswa bagi siswa lulusan MTs untuk melanjutkan ke SMA Imam Hatip dan lulusan MA ke Perguruan Tinggi.

“Harapannya kegiatan benchmarking ini dapat membawa implikasi positif pada pendidikan di Madrasah terutama pada peningkatan kualitas pembelajaran dan kesempatan membangun kerja sama dalam bidang pendidikan,” pungkas Rofik (*/roudlon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here