Tradisi Baca Qur’an Bagi Siswa Terlambat MAN 1 Lamongan

0
510

 

Asisten Waka Kesiswaan MAN 1 Lamongan Suparno terus aktif memantau siswa terlambat yang membaca Al-Quran

Lamongan-Kedisplinan menjadi hal penting dalam proses pembelajaran bagi siswa di lingkungan MAN 1 Lamongan. Para dewan guru menyadari bahwa sikap disiplin menjadi kunci kesuksesan anak didiknya. Karena kedisiplinan bukan hanya mendorong siswa untuk terbiasa belajar sesuai waktunya, tetapi juga mampu membangun karakter (character building) bagi siswa.

Maka, tak heran bila persoalan kedisiplinan siswa menjadi perhatian utama madrasah dan dijadikan sebagai tradisi, termasuk masuk tepat pada waktunya. Para siswa yang terlambat, akan langsung dapat pembinaan dan sanksi. Bentuknya, bukan sanksi fisik, tetapi sanksi yang mampu membangun karakter siswa. Di antaranya berupa perintah membaca Al-Qur’an dan menganbil daun-daun yang berserakan di halaman, sehingga menjadi bersih.

Waka Sarana Prasarana MAN 1 Lamongan Sofyan Hadi memberikan pembinaan pada sejumlah siswa yang datang terlambat

Kedisplinan yang ingin dibangun secara konsisten tersebut membuat sering ada pemandangan beda di depan madrasah. Ada beberapa siswa terhalang, tidak boleh masuk kelas mengikuti pelajaran yang dimulai setiap pukul 07.00 WIB pagi. Mereka dilarang masuk kelas karena terlambat datang.  Itu juga yang menjadi pemandangan, Rabu (20/2/2019). Para siswa duduk  berjajar di dekat meja piket dan membaca kitab suci di tangan masing-masing.

Salah satu guru MAN 1 Lamongan Isrowiyah ikut aktif memantau para siswa terlambat yang mendapat sanksi membaca Al-Quran 

Di bawah komando langsung Asisten Waka Kesiswaan MAN 1 Lamongan Suparno sebagai Ketua Tata Tertib, para dewan guru mengumpulkan beberapa siswa yang datang terlambat tersebut. Bahkan, Waka Sarana Prasarana MAN 1 Lamongan Sofyan Hadi ikut turun dan memberikan pembinaan khusus pada siswa yang terlambat. Tampak juga Asisten Waka Sarana Prasana Kasduni, Isrowiyah, Muyasaroh Thoha, dan sejumlah guru lainnya.

Mereka memberikan arahan dan pembinaan. Selanjutnya, para siswa tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa masuk kelas. Mereka mengambil kitab suci Al-Quran dan mengambil tempat duduk untuk membaca bersama-sama. “Kami suruh membaca surat Yasin,”  kata Suparno.

Selain membaca Al-Quran, pihaknya juga terkadang memberikan sanksi dengan mengambil daun yang berserakan di halaman. Bagi dia, sanksi ini dimaksudkan untuk membangun karakter anak didik agar disiplin, sekaligus juga untuk mentradisikan Al-Qur’an dan hidup bersih. “Dan alhamdulillah, banyak siswa yang akhirnya sadar dan tidak terlambat lagi,” kata Suparno. (roudlon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here