Sabtu, 10 Okt 2026
  • VISI MAN 1 LAMONGAN : "MADRASAH UNGGUL DALAM PRESTASI, TERAMPIL, BERAKHLAKUL KARIMAH DAN BERBUDAYA LINGKUNGAN”

Dirjen Pendis: Madrasah Keterampilan Harus Menjadi “Tongkat, Payung, dan Pangan” bagi Generasi Muda Masa Depan

Share Agar Bermanfaat!!

LAMONGAN, JAWA TIMUR — Madrasah keterampilan tidak cukup hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, madrasah harus mampu menjadi tempat tumbuhnya keterampilan hidup, perlindungan, sekaligus pemenuhan kebutuhan peserta didik agar mereka siap menghadapi tantangan zaman dan mampu berkiprah di tingkat global.

Pesan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag., dalam sambutan pembukaan Ekstranas (Ekspo dan Rapat Kerja Nasional) Madrasah Aliyah Plus Keterampilan ke-8 Tahun 2026 yang digelar di Gedung Sport Center Lamongan, Jawa Timur, dan diikuti madrasah aliyah plus keterampilan dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Prof. Amien Suyitno mengajak seluruh pengelola madrasah keterampilan untuk meneladani filosofi pendidikan yang diwariskan Sunan Drajat, salah satu Wali Songo yang memiliki jejak sejarah kuat di Lamongan.

Menurutnya, semangat pelayanan pendidikan di madrasah keterampilan dapat direfleksikan melalui tiga pesan kearifan Sunan Drajat.

Pertama, “Weneono tongkat marang wong buta” atau berilah tongkat kepada orang yang buta. Filosofi ini, menurut Dirjen Pendis, menggambarkan bahwa madrasah harus mampu memberikan “tongkat” berupa lifeskill dan keterampilan kepada peserta didiknya.

“Madrasah harus bisa memberikan tongkat lifeskill, menuntun softskill dan keterampilan kepada anak didiknya. Apa yang dibutuhkan di era sekarang, madrasah keterampilan harus mampu melayani siswa-siswinya,” tegas Prof. Amien.

Tongkat tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan harus memberikan bekal nyata agar peserta didik mampu berjalan mandiri, memiliki kompetensi, dan siap menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah.

Kedua, “Weneono payung marang wong kudanan” atau berilah payung kepada orang yang kehujanan. Pesan ini mengandung makna bahwa madrasah harus menjadi ruang yang memberikan perlindungan, pendampingan, dan rasa aman bagi peserta didik.

Madrasah tidak hanya dituntut menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu mendampingi mereka menghadapi berbagai tantangan sosial, perkembangan teknologi, perubahan zaman, serta dinamika kehidupan generasi muda.

Ketiga, “Weneono mangan marang wong lesu” atau berilah makan kepada orang yang lapar dan membutuhkan. Filosofi tersebut kemudian dikaitkan dengan pentingnya memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan nutrisi terbaik bagi peserta didik.

Menurut Prof. Amien, semangat tersebut kini mendapat bentuk nyata melalui berbagai program pemerintah, salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi peserta didik.

Pesan-pesan tersebut mendapat perhatian dan apresiasi dari seluruh peserta Ekstranas. Suasana gedung Sport Center Lamongan pun bergemuruh dengan tepuk tangan setelah penyampaian gagasan tersebut.

Dari Nusantara Menuju Mendunia

Tidak berhenti pada persoalan keterampilan dan pelayanan peserta didik, Dirjen Pendis juga mendorong madrasah untuk meningkatkan kepercayaan diri dan memperluas orientasi hingga ke tingkat internasional.

Ia mengingatkan bahwa madrasah tidak boleh hanya “membahana di bumi Nusantara”, sebagaimana salah satu semangat yang selama ini dikenal dalam Mars Madrasah, tetapi harus mampu “membahana mendunia.”

Semangat tersebut menjadi dorongan agar madrasah tidak berhenti pada prestasi di tingkat lokal dan nasional. Madrasah harus berani membawa keunggulan, inovasi, riset, literasi, numerasi, sains, serta keterampilan peserta didiknya ke panggung dunia.

Mars Madrasah tersebut sendiri telah dirilis sejak 2017 pada masa Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Prestasi Madrasah dalam PISA Jadi Bukti

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Amien Suyitno juga menyinggung capaian madrasah dalam PISA (Programme for International Student Assessment), khususnya pada aspek literasi, numerasi, dan sains.

Ia menegaskan bahwa berbagai program penguatan pendidikan yang dilakukan madrasah telah menunjukkan hasil positif. Bahkan, capaian madrasah dalam sejumlah indikator tersebut disebut telah berada di atas rata-rata nasional.

Pernyataan tersebut semakin menguatkan bahwa madrasah memiliki potensi besar untuk menjadi lembaga pendidikan yang unggul, adaptif, dan mampu bersaing di tengah perkembangan pendidikan global.

Karena itu, Ekstranas ke-8 Tahun 2026 tidak sekadar menjadi ajang ekspo keterampilan dan rapat kerja nasional. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat komitmen bersama bahwa madrasah keterampilan harus mampu menjawab kebutuhan zaman, memberikan bekal kehidupan kepada peserta didik, sekaligus membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.

MAN 1 Lamongan Jadi Tuan Rumah Ekstranas ke-8

Ekstranas (Ekspo dan Rapat Kerja Nasional) Madrasah Aliyah Plus Keterampilan ke-8 Tahun 2026 diselenggarakan di MAN 1 Lamongan. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan di Gedung Sport Center Lamongan, Jawa Timur.

Kegiatan tersebut mempertemukan madrasah aliyah plus keterampilan dari berbagai daerah di Indonesia sebagai ruang berbagi praktik baik, memamerkan hasil karya dan keterampilan peserta didik, sekaligus memperkuat jejaring dan kolaborasi pengembangan madrasah keterampilan.

Momentum tersebut sekaligus menegaskan posisi madrasah keterampilan sebagai bagian penting dari transformasi pendidikan madrasah: memberi tongkat bagi yang membutuhkan tuntunan, memberikan payung bagi yang membutuhkan perlindungan, dan memberikan nutrisi bagi generasi yang sedang bertumbuh.

Dari Lamongan, semangat Sunan Drajat kembali dihidupkan dalam wajah pendidikan modern. Madrasah keterampilan bukan sekadar tempat belajar keterampilan, tetapi tempat menyiapkan generasi yang mampu berdiri sendiri, berdaya, berkarakter, dan siap membahana hingga dunia. (Ict Manela).


Share Agar Bermanfaat!!

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR