
Bulan Ramadan menjadi bulan yang mulia bagi umat islam di seluruh dunia. Salah satunya, bertepatan dengan peristiwa Nuzulul Qur’an yaitu peristiwa pertama kali diturunkannya wahyu Allah SWT berupa Al-Qur’an di bumi kepada Nabi Muhammad SAW.
Masih dalam suasana kegiatan Ramadhan, pada hari ini MAN 1 Lamongan mengadakan kegiatan Khotmil Qur’an dan peringatan Nuzulul Qur’an sekaligus sebagai penutup kegiatan bulan Ramadhan tahun ini. Sebelum libur panjang sampai Hari Raya Idul Fitri nanti.
Acara diawali dengan khotmil Qur’an dilanjutkan do’a. Kemudian dilanjutkan acara inti meliputi sambutan kepala madrasah, penyerahan zakat secara simbolik dan mauidhoh hasanah.

Pembagian zakat merupakan kerjasama dan bentuk kepedulian dari alumni MAN 1 Lamongan yang tergabung dalam IKAMANELA (Ikatan Alumni MAN 1 Lamongan)
Memperingati Nuzulul Quran memberikan banyak faedah, di antaranya meningkatkan keimanan, memperdalam pemahaman Al-Qur’an, dan memperkuat ikatan dengan manusia dengan Sang Pencipta. Khususnya ditujukan bagi seluruh civitas akademik dan siswa-siswi MAN 1 Lamongan

Mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH. Miftahul Falah, Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin, Babat, Lamongan. KH. Miftahul Falah menjelaskan tentang sejarah dan proses adanya malam Nuzulul Qur’an yang diperingati setiap malam ke-17 Bulan Ramadhan.
“Dalam peristiwa Nuzulul Qur’an, Nabi Muhammad SAW. Yang tengah menyepi di Gua Hira mendapatkan wahyu pertama, yaitu Al-Qur’an Surah al-Alaq ayat 1 hingga 5. Sejak saat itu sepanjang lebih dari 22 tahun, Al-Qur’an turun secara bertahap untuk menjadi pedoman umat manusia,” jelasnya pada pembukaan mauidhoh pagi ini di Masjid Darussalam MAN 1 Lamongan.

Dalam mauidhohnya yang mengutip dari ayat-ayat Al Qur’an, KH. Miftahul Falah juga menyampaikan keutamaan peran manusia sebagai keturunan Nabi Adam sebagai khalifah di bumi. Maka manusia memiliki tugas dan tanggung jawab luar biasa terhadap keberlangsungan hidup di muka bumi. Termasuk tanggung jawab melestarikan membaca Al-Qur’an setiap harinya.
‘Jadi sebetulnya nuzulul quran bukan hanya sekedar memperingati pada saat awal wahyu diturunkan di gua hira pada awal bulan puasa. Oleh karena itu, kita harus melanjutkan tradisi pada masa rasulullah yaitu tadarus Al-Qur’an,” tandasnya.
“Dan bacalah Al Qur’an walaupun belum paham artinya. Amalkanlah walaupun sedikit. Menjadi ahlul Qur’an dimulai dengan membiasakan membacanya,” pesan KH. Miftahul Falah dalam penutupan mauidhoh. (NI)(Humas Manela)