
Santri Ulya Bahrul Fawaid Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lamongan melaksanakan program rihlah edukatif selama dua hari dalam rangka Tahun Pelajaran 2025/2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran luar kelas yang bertujuan memperluas wawasan keislaman, menumbuhkan pengalaman spiritual, serta memperkuat karakter santri.
Rihlah hari pertama diarahkan ke Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Jawa Tengah, yang diasuh oleh ulama nasional KH. Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq. Seluruh santri mengikuti kegiatan dengan pendampingan penuh dari para musrif dan musrifah, ustaz dan ustazah, serta jajaran pimpinan madrasah. Setibanya di lokasi, rombongan disambut langsung oleh Gus Muwafiq yang kemudian memberikan tausiyah selama kurang lebih satu jam.
Dalam tausiyahnya, Gus Muwafiq menekankan pentingnya adab, akhlak, serta wawasan kebangsaan dalam proses menuntut ilmu. Seluruh santri dan pendamping tampak khidmat dan antusias menyimak pesan-pesan keilmuan dan keteladanan yang disampaikan.
Ketua Ma’had Bahrul Fawaid MAN 1 Lamongan, Ibu Alifatuz Zamzami, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan rihlah ini dirancang sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter santri.
“Rihlah ini tidak sekadar perjalanan, tetapi merupakan proses pembelajaran langsung dari para ulama. Santri belajar tentang keteladanan, adab, serta cara memaknai ilmu secara lebih luas dan mendalam,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendampingan intensif oleh musrif dan musrifah bertujuan memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, aman, dan sarat nilai edukatif.
Pada hari kedua, rombongan santri melanjutkan rencana rihlah ke Pondok Pesantren di Yogyakarta yang diasuh oleh Gus Miftah. Namun, menjelang keberangkatan, panitia menerima informasi bahwa Gus Miftah sedang melaksanakan ibadah umrah. Dengan demikian, agenda rihlah disesuaikan dengan mengajak santri melakukan kegiatan penyegaran (refreshing) di salah satu destinasi wisata edukatif dalam rute perjalanan.
Kepala MAN 1 Lamongan, Nur Endah Mahmudah, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi pelaksanaan rihlah yang berjalan lancar dan penuh makna.
“Kegiatan rihlah ini menjadi sarana strategis untuk membentuk santri yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan berkarakter. Interaksi langsung dengan lingkungan pesantren dan para ulama memberikan pengalaman berharga yang tidak diperoleh di dalam kelas,” tuturnya.
Beliau berharap, pengalaman selama rihlah dapat menjadi bekal bagi santri dalam mengamalkan nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Secara keseluruhan, program rihlah santri Ulya Bahrul Fawaid MAN 1 Lamongan ini dinilai sangat bermanfaat sebagai perjalanan edukatif yang mampu meningkatkan pengetahuan, memperluas wawasan, serta memperkuat karakter santri dalam bingkai pendidikan madrasah dan pesantren. (Humas Manela).