Selasa, 18 Jun 2024
  • VISI MAN 1 LAMONGAN : "MADRASAH UNGGUL DALAM PRESTASI, TERAMPIL, BERAKHLAKUL KARIMAH DAN BERBUDAYA LINGKUNGAN”

Surau yang Dirindukan Oleh Suharsono, S.Pd

Surau yang  Dirindukan Oleh Suharsono, S.Pd

SURAU YANG DIRINDUKAN

Oleh : Suharsono, AQS

Langit hampir terbenam di batas cakrawala. Bumi kembali gelap, hanya kilauan cahaya senter yang terlihat semburat dari balik bukit. Sesosok bayangan timbul tenggelam di antara rerimbun pepohonan yang lama sekali di sebuah jalan kecil yang dulu mengarah ke surau Mbah Pa’i. Matanya nanar melihat cafe dengan alunan musik yang memekakkan telinga itu. Belum lagi cafe tersebut kerap kali dijadikan tempat pesta minuman keras bagi sebagian pemuda yang frustasi akibat pandemi Covid yang tak berkesudahan. Mereka kehilangan pekerjaan yang ditekuni selama ini akibat PHK sepihak. Perusahaan beralasan dengan efesiensi karyawan, inilah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa perusahaanya tersebut.

Daun-daun terdengar lirih dari kejauhan akibat gesekan lembut terpaan angin malam. Suaranya makin lama semakin pelan seakan ikut merasakan kesedihan yang dilami Sujudin. Dinginya suasana malam tak mampu mendinginkan suasana batin Sujudin. Sekilas nampak Kerut di dahi Sujudin terangkat ke atas, giginya bergemeretak dengan tarikan nafas yang tersengal-sengal seakan tak terima dengan kenyataan di hadapanya saat ini. Bola matanya lambat laun sayu melihat bola lampu cafe yang berpijar sangat terang. Dalam pijaran bola lampu tersebut terlihat jelas wajah Mbah Pa’i di pelupuk matanya. Ya, lelaki tua penjaga surau itulah yang setiap hari menjadi imam shalat rawatib dan sekaligus guru ngaji Sujudin. Setiap hari menuntunnya mengenal alif ba ta sehabis shalat Maghrib.

Seiring dengan perjalanan waktu, usia Mbah Pa’i semakin menua serta ajal beliau semakin dekat. Sang malaikat maut datang menghampiri beliau saat sujud terakhir shalat Subuh. Ketika sujud rakaat terakhir itulah kecurigaan jamaah semakin nyata bahwa beliau benar benar telah dipanggil Sang Maha Kuasa. Tubuh kurusnya akhirnya dibopong menuruni tangga panggung surau dan diletakkannya di atas amben rumah yang beralas tanah liat. Sanak saudara, handai taulan dan tetangga berdatangan untuk merawat jenazahnya sampai ke tanah pemakamam untuk dikuburkan terakhir kalinya. Mbah Pa’i pulang ke hadapan Ilahi dengan senyum yang mengembang. Seakan akan bidadari surga telah menjemputnya di pintu langit dan mengantarnya ke taman surga.

Tubuh Sujudin tersentak tatkala penjaga parkir kafe menjumpainya dengan teriakkan keras,” Hai..manusia di balik semak, cepat keluar….kalau tidak saya teriakin maling… kamu!” kata juru parkir dengan nada tinggi. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya Sujudin keluar dari semak semak dan melangkahkan kakinya menuju ke juru parkir tersebut. “Darno ya…?” sapa Sujudin kejuru parkir tersebut dengan senyum. “Ya saya Darno,” sambil kebingungan mencoba menerka sosok tubuh di hadapanya itu. “Saya Sujudin Kak Darno.” Seperti tersengat listrik 1000 watt, muka Darno terkejut melihat Sujudin adik semata wayangnya itu kembali ke kampung halamanya. Tak terasa kristal bening meleleh di pipi Darno sambil memeluk erat erat adiknya itu yang puluhan tahun merantau untuk menimba ilmu agama.
Keduanya sesenggukan melihat kenyataan pahit di hadapanya. Surau yang dirindukan itu berubah menjadi kafe. Tempat kongkow-kongkow anak muda dan hiburan malam bagi yang haus akan kanan duniawi bukan lagi tempat dzikir, melantukan pujian kepada Allah Swt. dan shalawat kepada Nabi. Kini tempat itu tak terdengar lagi merdu kumandang adzan Mbah Pa’i memanggil penduduk kampung untuk melaksanakan shalat jamaah. Tak dengar lagi anak-anak kecil mengaji Iqra mengenal huruf-huruf hijaiyah. Tak terdengar lagi suara tarkhim cak Dulkamid membangunkan penduduk kampung dari mimpi-mimpi panjangnya saat Subuh hari. Tak terdengar lagi senda gurau cak Mat dan cak Kim yang biasa ngobrol di surau panggung itu sambil menunggu waktu shalat Isya’ tiba. Semuanya telah terkubur dalam-dalam dalam alunan musik koplo. “Kita telah kalah dan dikalahkan, “Din!” “Kenapa kak, ada apa dengan surau kita itu.” “Kenapa berubah menjadi kafe seperti ini. Ada apa, Kak!” “Cepat jawab, Kak!!!”

Pertanyaan yang bertubi-tubi itu seperti ribuan semut yang mengigit ubun-ubun kepala Darno. Kembali Darno menghela nafas panjang. Akhirnya ia buka mulut atas peristiwa yang sebenarnya terjadi. “Semua ini akibat keserakahan adik Mbah Pa’i yang gelap akan uang segebok yang dibawa orang-orang kota itu. Demi uang itu akhirnya ia merelakan surau itu dibeli mereka. Surau kita itu telah rata dengan tanah Dik, dan bekas bangunan surau itu didirikan sebuah kafe yang kita saksikan malam ini.” Dengan mata berkaca-kaca, Darno seakan berat menceritakan peristiwa tersebut.

Dalam dekapan malam, wajah langit semakin kelam. Hanya terllihat sesosok bayangan hitam melintas terbang dari satu pohon ke pohon lainya. Hewan malam itu berjuang untuk mendapatkan makanan meski dalam kegelapan. Mereka bergelantungan menghabiskan buah jambu milik Mak Ijah meski dibalut dengan tas kresek. Suara-suara malam telah berdatangan. Di balik pohon pisang terdengar nyaring suara burung hantu yang memanggil-manggil anaknya yang telah mati akibat jebakan tikus para petani. Di atas pohon randu suara burung tekukur berdzikir tanda waktu subuh akan segera tiba. Dalam gelap itu, Darno dan Sujudin terlihat sujud tersungkur di atas gundukan tanah. Dalam sujudnya mereka mengucapkan istighfar berkali-kali mengharap surau yang dirindukan itu bisa kembali. (*)

penulis
admin

Tulisan Lainnya

Guru Raih Gelar Doktor
Oleh : admin

Guru Raih Gelar Doktor

0 Komentar

KELUAR